Tas Batok yang Menjelma Jadi Uang

Tas Batok yang Menjelma Jadi Uang

Tidak enak jadi pengangguran. Hidup terasa tak memiliki nilai, dan semua orang ‘ngrasani’, betapa tak berdayanya hidup ini tanpa karya. Belum lagi kebutuhan kehidupan untuk keluarga dan anak-anak yang harus dicukupi setiap hari. Hidup terasa sumpek dan menakutkan. Itulah yang dirasakan Ismarofi (37), dua tahun lalu.

Saat itu, Ismarofi, yang tinggal di Jl Kali Glagah No 48 Tanjungsari, Kecamatan Sukerjo, Blitar ini harus berjuang untuk menghidupi keluarganya. Ia harus mencari nafkah, dan berburu uang secara halal untuk membiayai hidupnya.

Mau bekerja di pabrik? usia yang semakin tua membuatnya kalah bersaing dengan tenaga-tenaga muda baru yang masih segar. Mencari kerja di daerah Blitar juga semakin sedikit peluang yang tersedia. Sejak ia di PHK dari perusahaan sebuah produk furniture, ia ingin membuat sesuatu yang ‘dapat dijual’ dan menghasilkan uang.

Saat menganggur itulah ia mengaku mendapatkan ide untuk mencoba membuat produk tas yang terbuat dari tempurung kelapa/batok kelapa. Ide membuat tas diperolehnya dari diskusi kecil dengan teman-teman yang tergabung di Karang Taruna di desanya. Ia ditunjukkan gambar tas yang menarik, jika tas tersebut dapat dibuat dari tempurung kelapa tentu akan terlihat menarik lagi pikirnya.

 

Kreatif

Mengapa tempurung/batok kelapa? Ya karena batok kelapa di Blitar adalah sampah/limbah yang banyak jumlahnya. Limbah itu biasanya hanya digunakan sebagai kayu bakar atau teronggok terbuang begitu saja.

Sampah itu belum diberdayakan untuk menjadi ‘sesuatu’ yang lebih berguna. Ia terpikir untuk menggunakan batok kelapa karena bahan ini lebih awet dan tahan lama, juga tidak mudah rusak.

“Saat itu, saya nyoba-nyoba membuat tas, mencoba-coba desain yang lebih unik. Saya gunakan tempurung kelapa yang dipotong-potong kecil, dihaluskan, kemudian saya rangkaikan menjadi bentuk yang menyatu, kemudian saya finishing supaya lebih menarik dengan kombinasi kayu, kain blacu, atau batik. Hasilnya ternyata terlihat bagus. Sejak saat itu saya yakin bisa menjual dan menawarkan kepada calon pembeli,” ujar suami dari Ririn Rikawanti ini.

Pada awal-awal produksi, ia harus berjuang keras setiap hari untuk menggunakan sumberdaya yang dimiliki. Awalnya batok kelapa ia dapat dari para tetangga secara gratis, kemudian ia buat rangkaian/potongan kecil batok menjadi bahan tas berbahan batok kelapa yang menarik. Produk-produk itu kemudian ia jual kepada kenalan, tetangga atau siapa saja orang yang dikenalnya. Harganya yang relatif murah, membuat harga ini cepat laku dan diminati banyak pembeli.

Saat ini, ia mampu memproduksi sebanyak 30 hingga 80 buah produk per hari, yang melibatkan 20 orang pekerja di desanya. Ia juga bekerjasama dengan perusahaan kopra yang tak jauh dari tempatnya tinggal untuk memperoleh bahan batok yang bermutu, selain itu ia juga mendapat dukungan dari sebuah perusahaan pemasaran online ‘ArgiaCyber.com’ untuk memasarkan secara online produk-produk yang dihasilkan melalui website ‘ KerajinanBatok.com.

“Alhamdulillah, setelah setahun program ini berjalan, dari online saja ia bisa menghasilkan omzet sekitar 15 juta / bulan dan produk kerajinan batok yang semula hanya dipasarkan di lokal bisa tembus hingga luar Jawa,” ujarnya. Sistem yang dipakai untuk memasarkan kerajinan batok ini adalah dengan menggunakan sistem reseller. Konsep ini banyak digunakan oleh para pemilik produk yang ingin produknya terjual lebih cepat.

Dengan kisaran harga hanya Rp20 ribu – Rp200 ribu per pcs, Ismarofi yakin produk tas dari bahan batok kelapa bisa cepat dikenal di pasaran. Terlebih Pemerintah Kota Blitar melalui ‘Program Gerakan Perang Melawan Kemiskinan’ juga turut turun tangan memberikan bantuan tambahan peralatan kerja untuk memperbesar usahanya. Dukungan dari Bank Jatim juga tak ketinggalan dengan diberikannya kredit KUR sebesar Rp20juta.Ismarofi yakin, hari-hari mendatang ia lebih bersemangat lagi.

dimuat di: http://ide-bisnis.wirausahanews.com/20120615/409-ismarofi-batik-batok-yang-menjelma-jadi-uang.html (15-06-2012)